Enjoy !
DILEMA
Sore
itu tak seperti biasanya. Gadis itu terlihat gelisah. Ia berjalan mondar-mandir
di depan pintu besar berwarna putih itu. Padahal biasanya dia selalu tampak
tenang dalam kondisi mendesak sekalipun. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada
dua orang wanita paruh baya. Salah satu dari mereka terlihat sedang menangis
sesenggukkan. Wanita yang satu lagi, yang tak lain adalah ibu dari gadis itu,
tampak sedang mencoba menangkannya.
***
Beberapa bulan yang lalu..
Pagi
itu adalah pagi yang cerah. Gadis itu
berjalan dengan santai melewati koridor menuju ke kelasnya. Suasana kelas saat
itu agak sepi. Setelah meletakkan tasnya, ia langsung keluar menuju taman
belakang sekolah. Jarang ada siswa yang berada disana. Kebanyakan dari mereka
lebih suka tempat ramai. Sangatlah berbeda dengannya.
Atha
kemudian duduk di kursi taman. "Hmm, udaranya sangat segar, sangat nyaman
menghabiskan waktu disini."gumamnya sambil membuka-buka halaman novel yang
dibawanya. Dia mulai membaca halaman per halaman novel itu.
"Pagi
Atha!" sapa seseorang tiba-tiba.
Atha
terkejut, "Apa yang akan kamu lakukan disini, Alana?"
Sepertinya
kedatangan Alana yang secara tiba-tiba membuat ketenangan Atha terusik.
"Hah?
Harusnya aku yang menanyakan itu padamu. Kamu sedang apa, Atha?"
"Kupikir
kamu mengetahui apa yang sedang aku lakukan sekarang." Atha menjawab
dengan enggan.
"Oh,
maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu." ujarnya sambil melirik
novel yang sedang dipegangnya. "Aku hanya ingin mengobrol denganmu dan
menjadi temanmu." sambungnya.
"Bukankah
kita semua memang teman? Apalagi, kamu juga sekelas denganku"
"Oh,
iya, kamu benar. Tapi bukan itu maksudku, aku ingin kenal lebih dekat
denganmu."
Alana
berkata, "Jadi, apakah kita bisa ber-…" 'Kriiinggg..'
ucapan Alana terpotong karena suara bel masuk.
"Kita
harus masuk kelas Alana" kata Atha sambil berjalan meninggalkan Alana.
“Dia
orangnya dingin sekali. Sepertinya kepribadiannya Introvert. Dan aku yakin dia
orang yang menarik. Aku tak akan menyerah untuk menjadi temannya.” gumam Alana.
***
Setiap
kali istirahat tiba, Atha langsung bergegas menuju ke perpustakaan di lantai
dua. Sejak kelas sepuluh dia suka menghabiskan waktu disana. Sendirian. Untuk
belajar, membaca buku, atau hanya sekedar mengamati pemandangan di luar
jendela. Tanpa diganggu oleh siapapun.
Tapi,
sejak kedatangan Alana, ketenangan gadis itu mulai terusik. Dia sering muncul
tiba-tiba. Mengajaknya mengobrol panjang lebar. Atha hanya mendengarkan, dan
sesekali menjawab pertanyaannya seperlunya. Di kelaspun tetap sama, dia sering
mengajak Atha mengobrol di sela-sela pelajaran, apalagi, dia duduk sebangku
dengannya. Tapi Atha menghiraukannya, karena hal itu mengganggu konsentrasi
pelajaran.
"Kenapa
kamu pendiam banget, sih, Tha? Kalau nggak ada yang mengajak ngobrol, kamu diam
saja dan sibuk dengan urusanmu sendiri"
"Aku
tidak suka banyak bicara dan aku sebenarnya tidak tahu apa yang harus
kubicarakan. Jika kupikir hal itu tidak penting, maka aku hanya perlu bicara
seperlunya saja. Dan aku lebih suka mengobrol dengan dua atau tiga orang
saja."
"Dan
kenapa kamu jarang ke kantin? Malah lebih sering ke perpustakaan? Dan
menyendiri di taman belakang?"
"Aku
ke kantin hanya seperlunya saja. Aku lebih suka tempat yang tenang. Di sana aku
bisa melakukan apa yang aku inginkan dan berpikir tentang banyak hal. Tanpa
terganggu oleh apapun. Aku tidak menyukai keramaian, karena itu membuatku
sesak. Aku selalu merasa sendiri, walaupun aku berada di tengah keramaian.
Jadi, aku lebih menyukai tempat yang tenang." jelas Atha panjang lebar.
"Apakah
kamu punya teman dekat, Tha?"
"Tidak.
Tidak ada seorangpun yang dekat denganku. Mereka semua hanya teman biasa."
"Jadi,
apakah kamu mau menjadi teman dekatku?"
Aku
hanya diam menanggapi ajakannya. Aku belum yakin dia bisa mengerti tentangku.
Aku tidak mau hal itu terulang kembali.
***
Ada
suatu saat dimana aku memang benar-benar kesepian, aku ingin punya teman yang
bisa saling mengerti, tapi akhirnya aku sadar tidak ada seorangpun yang cocok
denganku. Ketika aku bisa memahaminya tetapi dia tidak dapat memahamiku, dan
dia tidak. jadi aku merasa kesepian itu ketika aku berada di keramaian dan aku
tidak tahu apa yang harus kulakukan.
***
Hari
itu, sepulang sekolah, karena aku tidak mempunyai jadwal apapun, aku memutuskan
untuk menghabiskan waktu dengan melanjutkan membaca novelku yang sempat
tertunda tadi. Lagi pula besok weekend.
Bersantai di kamar dengan membaca novel favoritku adalah hal paling
menyenangkan.
Tiba-tiba
ibu memanggilku, "Atha, kemarilah!" suara Ibuku terdengar berasal
dari ruang tamu. "Ada temanmu yang datang!"
"Hah?
Teman? Kenapa selalu saja ada orang datang, disaat aku ingin menghabiskan waktu
sendiri." ujarku kesal.
Akupun
segera bergegas turun menuju ke ruang tamu. "Siapa yang datang, Bu?"
tanyaku. Teman sekelasmu, Alana. Aku terkejut. Bagaimana dia bisa sampai
kesini. Aku heran. "Hai, Atha!" sapanya padaku. Ibuku menawarkan
minum padanya lalu ia kembali ke dapur. "Kita bicara di kamarku saja
ya."ajakku.
"Orang
tuamu punya toko ya, Tha? Berjualan apa? Aku tadi melihat bangunan cukup besar
di halaman sebelah rumahmu, tapi aku belum sempat melihatnya." tanyanya
sembari berjalan. "Iya. Itu toko. Ibuku wirausahawan. Ibu menjual berbagai
macam makanan berbahan Pisang, seperti kue, ice dan keripik. Setiap hari
tokonya selalu ramai. Kalau hari ini, memang waktunya libur" jelasku.
"Oh, kayaknya enak tuh, boleh dicoba." kata Alana.
“Kamu
kenapa kesini? Mau apa? Dari mana kamu tahu rumahku? tanyaku bertubi-tubi.
“Tanyanya satu-satu, dong, Tha. Aku tahu rumahmu dari ketua kelas, dan aku
kesini hanya ingin berkunjung ke rumahmu.”
"Kamu
punya saudara?" tanya Alana
"Tidak.
Aku anak tunggal disini"
"Kita
sama ternyata"
"Wah.
Apa itu semua adalah piala, Tha?" kata Alana sambil menunjuk piala-piala
yang tertata rapi di rak.
"Kamu
sering memenangkan lomba bazar ternyata. Cita-citamu pasti ingin menjadi
pengusaha ya? Seperti ibumu"
"Ah,
tidak juga. Seberanya aku ingin menjadi penulis. Tapi juga sekaligus
berwirausaha. Aku terinspirasi dari seseorang. Selain ibuku tentunya."
"Siapa,
Tha?
"Itu
lho, Pak Chairul Tanjung si Anak Singkong."
"Oh,
beliau ternyata. Aku juga sangat mengaguminya. Dia adalah salah satu pengusaha
terkaya di Indonesia, bahkan dia sudah merintis usaha-usaha kecil-kecilan sejak
kuliah."
“Ngomong-ngomong,
Tha, foto siapa itu? Salah satu dari mereka sepertinya dirimu, tapi siapa yang
satunya?” Alana tiba-tiba menunjuk foto yang terpajang di dinding kamar Atha.”
Aku
terpaku. Biasanya tidak melihat foto itu di dinding. Foto itu aku simpan di
laci. Pasti, ibu yang memindahkannya ke situ. Seketika kenangan buruk itu
terngiang lagi di kepalaku.
***
Waktu
itu kami pulang sore karena ada ekstrakulikuler Pramuka di sekolah. Kami masih
13 tahun saat itu. Aku dan sahabatku, Kinan, sedang menunggu orang tua kami
menjemput. Jalan raya waktu itu sangat ramai. Waktu itu, karena trotoar yang
sempit, dan kami juga berjalan berdesak-desakan di trotoar, secara tidak
sengaja tubuhku terdorong, dan aku akhirnya jatuh ke jalan. Waktu itu ada motor
yang berjalan dengan sangat cepat ke arahku. Aku tidak bisa berdiri. Tiba-tiba,
Kinan menarik tanganku. Aku terdorong dan jatuh ke trotoar, tapi Kinan belum
sempat beranjak dari tempat itu. Akhirnya dia yang tertabrak. Dia mengalami
pendarahan di otak dan tidak bisa tertolong. Aku sungguh sangat menyesal atas
kepergiannya. Hal itu membuatku merasa sangat bersalah ketika ngat kejadian
itu.
***
"Tha, Atha? Kamu baik-baik
saja. Kenapa kamu melamun?"
“Siapa itu, Tha? Di foto itu kalian tampak
akrab sekali. Kalau kamu mau, kamu bisa cerita apa saja padaku. Apa kamu ada
masalah? Mungkin aku bisa membantumu.”
"Aku
merasa tidak enak badan. Mungkin kamu bisa pulang saja sekarang. Aku akan
istirahat."
"Kamu
baik-baik saja kan, Tha? Apa ada masalah yang ingin kamu ceritakan? Apa itu ada
hubungannya dengan foto itu?"
“Sudah
kubilang, cukup, Alana, lebih baik kamu pulang sekarang. Tidak perlu mengurusi
masalahku. Urusi saja dirimu sendiri!” bentak Atha.
“Baik,
aku akan pulang sekarang. Maafkan aku jika aku mengganggu.”
***
Setelah
kejadian itu, Alana ingin meminta maaf atas ucapan kasarnya waktu terakhir kali
bertemu. Dia tidak bermaksud membentaknya, dia hanya sedang emosi karena
terbawa suasana. Sudah berhari-hari, dia
tidak mendengar kabar tentang Alana. Entah kemana perginya dia. Dia mencoba menanyakan
kabar tentang Alana kepada wali kelasnya. Dan akhirnya dia mendapat kabar tentang
Alana. Kata beliau, Alana mengalami kecelakaan parah. Diapun bergegas menuju
rumah sakit tempat Alana berada. Saat itu kondisi Alana sangat kritis. Dia
sudah berada di ruang ICU selama beberapa hari dan masih tak sadarkan diri.
Menurut keterangan yang ada, dia tertabrak mobil dan mengakibatkan pendarahan
di beberapa bagian tubuhnya. Atha kaget mendengar hal itu, kecelakaannya
terjadi sore hari di hari yang sama setelah Atha menyuruhnya pulang. Atha
shock. Dia merasa sangat bersalah untuk yang kedua kalinya.
***
Sore
itu, keadaannya tidak tertolong. Sudah tidak ada harapan. Kondisinnya sangat
lemah karena pendarahan yang terjadi berkepanjangan. Saat itu untuk yang
terakhir kalinya dia melihatnya. Alana tersenyum dalam tidur panjangnya.
Atha
menangis sesenggukkan, “Maafkan aku, Alana, karena selama ini aku mengcuhkanmu,
menolak ajakanmu, membentakmu dan tidak bersikap baik padamu. Aku sungguh minta
maaf. Aku mungkin tidak akan menemukan teman seperti dirimu dan sahabatku dulu.
Kalian pergi begitu saja meninggalkanku. Kinan pergi karena menyelamatkanku.
Dan kamu juga pergi tanpa berpamitan. Aku sadar ini memang bukan sepenuhnya
kesalahanku. Jika aku tidak terbawa emosi saat itu mungkin hal ini tidak akan
terjadi dan kita bisa berteman. Takdir tuhan tidak ada yang tahu. Aku belajar
banyak dari kalian. Jika aku tidak terbawa emosi saat itu mungkin hal ini tidak
akan terjadi dan kita bisa berteman.. Maafkan aku, Alana. Aku sungguh menyesal.
Semoga kita bisa bertemu lagi." ucapnya saat berada di pusara Alana.
Atha
baru mengetahui, betapa sakitnya kehilangan seseorang yang sangat berarti
baginya, untuk yang kedua kalinya.Walaupun kebersamaan mereka tidak terasa dan
hanya sebentar saja. Tapi sebenarnya, dalam lubuk hati Atha, dia sangat senang
dan bersyukur mengenal orang seperti Alana.
***
How to get to Lucky Creek Casino & Hotel in Elko by Bus - JtmHub
BalasHapusThe cheapest way to get from Lucky Creek Casino & Hotel to Elko costs only $0, and 문경 출장안마 the quickest way takes just 16 mins. 인천광역 출장샵 The quickest way takes 인천광역 출장샵 just 삼척 출장안마 20 동해 출장마사지