Kamis, 21 September 2017

CERBUNG

Cerpen ini kubuat karena ada tugas Bahasa Indonesia. Ini memang bukan cerpen pertamaku. Cerpen Pertamaku waktu jama SD atau SMP ya, lupa, dan itu cuma iseng-iseng doang, bahasanya masih anak SD banget, dan gak pernah jadi cerpennya, karena udah ilang duluan kertasnya dan males nulis lagi. But, ini juga termasuknya cerpen pertama juga sih. Cerpen Pertama yang aku niat buat sampe selesai, he he he.. Sebenarnya aku juga bingung alur ceritanya mau gimana. Tapi akhirnya jadilah seperti ini. Awal dan akhirnya masih agak aneh. Kayaknya perlu dibuat lanjutannya, deh. Berarti, ada awal dan akhirnya yang jelas nanti. See you  ^_^
Enjoy !


DILEMA

Sore itu tak seperti biasanya. Gadis itu terlihat gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu besar berwarna putih itu. Padahal biasanya dia selalu tampak tenang dalam kondisi mendesak sekalipun. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada dua orang wanita paruh baya. Salah satu dari mereka terlihat sedang menangis sesenggukkan. Wanita yang satu lagi, yang tak lain adalah ibu dari gadis itu, tampak sedang mencoba menangkannya.
***
Beberapa bulan yang lalu..
            Pagi itu adalah pagi yang cerah.  Gadis itu berjalan dengan santai melewati koridor menuju ke kelasnya. Suasana kelas saat itu agak sepi. Setelah meletakkan tasnya, ia langsung keluar menuju taman belakang sekolah. Jarang ada siswa yang berada disana. Kebanyakan dari mereka lebih suka tempat ramai. Sangatlah berbeda dengannya.
Atha kemudian duduk di kursi taman. "Hmm, udaranya sangat segar, sangat nyaman menghabiskan waktu disini."gumamnya sambil membuka-buka halaman novel yang dibawanya. Dia mulai membaca halaman per halaman novel itu.
"Pagi Atha!" sapa seseorang tiba-tiba.
Atha terkejut, "Apa yang akan kamu lakukan disini, Alana?"
Sepertinya kedatangan Alana yang secara tiba-tiba membuat ketenangan Atha terusik.
"Hah? Harusnya aku yang menanyakan itu padamu. Kamu sedang apa, Atha?"
"Kupikir kamu mengetahui apa yang sedang aku lakukan sekarang." Atha menjawab dengan enggan.
"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu." ujarnya sambil melirik novel yang sedang dipegangnya. "Aku hanya ingin mengobrol denganmu dan menjadi temanmu." sambungnya.
"Bukankah kita semua memang teman? Apalagi, kamu juga sekelas denganku"
"Oh, iya, kamu benar. Tapi bukan itu maksudku, aku ingin kenal lebih dekat denganmu."
Alana berkata, "Jadi, apakah kita bisa ber-…"  'Kriiinggg..' ucapan Alana terpotong karena suara bel masuk.
"Kita harus masuk kelas Alana" kata Atha sambil berjalan meninggalkan Alana.
“Dia orangnya dingin sekali. Sepertinya kepribadiannya Introvert. Dan aku yakin dia orang yang menarik. Aku tak akan menyerah untuk menjadi temannya.” gumam Alana.
***
Setiap kali istirahat tiba, Atha langsung bergegas menuju ke perpustakaan di lantai dua. Sejak kelas sepuluh dia suka menghabiskan waktu disana. Sendirian. Untuk belajar, membaca buku, atau hanya sekedar mengamati pemandangan di luar jendela. Tanpa diganggu oleh siapapun.
Tapi, sejak kedatangan Alana, ketenangan gadis itu mulai terusik. Dia sering muncul tiba-tiba. Mengajaknya mengobrol panjang lebar. Atha hanya mendengarkan, dan sesekali menjawab pertanyaannya seperlunya. Di kelaspun tetap sama, dia sering mengajak Atha mengobrol di sela-sela pelajaran, apalagi, dia duduk sebangku dengannya. Tapi Atha menghiraukannya, karena hal itu mengganggu konsentrasi pelajaran.
"Kenapa kamu pendiam banget, sih, Tha? Kalau nggak ada yang mengajak ngobrol, kamu diam saja dan sibuk dengan urusanmu sendiri"
"Aku tidak suka banyak bicara dan aku sebenarnya tidak tahu apa yang harus kubicarakan. Jika kupikir hal itu tidak penting, maka aku hanya perlu bicara seperlunya saja. Dan aku lebih suka mengobrol dengan dua atau tiga orang saja."
"Dan kenapa kamu jarang ke kantin? Malah lebih sering ke perpustakaan? Dan menyendiri di taman belakang?"
"Aku ke kantin hanya seperlunya saja. Aku lebih suka tempat yang tenang. Di sana aku bisa melakukan apa yang aku inginkan dan berpikir tentang banyak hal. Tanpa terganggu oleh apapun. Aku tidak menyukai keramaian, karena itu membuatku sesak. Aku selalu merasa sendiri, walaupun aku berada di tengah keramaian. Jadi, aku lebih menyukai tempat yang tenang." jelas Atha panjang lebar.
"Apakah kamu punya teman dekat, Tha?"
"Tidak. Tidak ada seorangpun yang dekat denganku. Mereka semua hanya teman biasa."
"Jadi, apakah kamu mau menjadi teman dekatku?"
Aku hanya diam menanggapi ajakannya. Aku belum yakin dia bisa mengerti tentangku. Aku tidak mau hal itu terulang kembali.
***
Ada suatu saat dimana aku memang benar-benar kesepian, aku ingin punya teman yang bisa saling mengerti, tapi akhirnya aku sadar tidak ada seorangpun yang cocok denganku. Ketika aku bisa memahaminya tetapi dia tidak dapat memahamiku, dan dia tidak. jadi aku merasa kesepian itu ketika aku berada di keramaian dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
***
            Hari itu, sepulang sekolah, karena aku tidak mempunyai jadwal apapun, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan melanjutkan membaca novelku yang sempat tertunda tadi. Lagi pula besok weekend. Bersantai di kamar dengan membaca novel favoritku adalah hal paling menyenangkan.
            Tiba-tiba ibu memanggilku, "Atha, kemarilah!" suara Ibuku terdengar berasal dari ruang tamu. "Ada temanmu yang datang!"
"Hah? Teman? Kenapa selalu saja ada orang datang, disaat aku ingin menghabiskan waktu sendiri." ujarku kesal.
Akupun segera bergegas turun menuju ke ruang tamu. "Siapa yang datang, Bu?" tanyaku. Teman sekelasmu, Alana. Aku terkejut. Bagaimana dia bisa sampai kesini. Aku heran. "Hai, Atha!" sapanya padaku. Ibuku menawarkan minum padanya lalu ia kembali ke dapur. "Kita bicara di kamarku saja ya."ajakku.
"Orang tuamu punya toko ya, Tha? Berjualan apa? Aku tadi melihat bangunan cukup besar di halaman sebelah rumahmu, tapi aku belum sempat melihatnya." tanyanya sembari berjalan. "Iya. Itu toko. Ibuku wirausahawan. Ibu menjual berbagai macam makanan berbahan Pisang, seperti kue, ice dan keripik. Setiap hari tokonya selalu ramai. Kalau hari ini, memang waktunya libur" jelasku. "Oh, kayaknya enak tuh, boleh dicoba." kata Alana.
“Kamu kenapa kesini? Mau apa? Dari mana kamu tahu rumahku? tanyaku bertubi-tubi. “Tanyanya satu-satu, dong, Tha. Aku tahu rumahmu dari ketua kelas, dan aku kesini hanya ingin berkunjung ke rumahmu.”
"Kamu punya saudara?" tanya Alana
"Tidak. Aku anak tunggal disini"
"Kita sama ternyata"
"Wah. Apa itu semua adalah piala, Tha?" kata Alana sambil menunjuk piala-piala yang tertata rapi di rak.
"Kamu sering memenangkan lomba bazar ternyata. Cita-citamu pasti ingin menjadi pengusaha ya? Seperti ibumu"
"Ah, tidak juga. Seberanya aku ingin menjadi penulis. Tapi juga sekaligus berwirausaha. Aku terinspirasi dari seseorang. Selain ibuku tentunya."
"Siapa, Tha?
"Itu lho, Pak Chairul Tanjung si Anak Singkong."
"Oh, beliau ternyata. Aku juga sangat mengaguminya. Dia adalah salah satu pengusaha terkaya di Indonesia, bahkan dia sudah merintis usaha-usaha kecil-kecilan sejak kuliah."
“Ngomong-ngomong, Tha, foto siapa itu? Salah satu dari mereka sepertinya dirimu, tapi siapa yang satunya?” Alana tiba-tiba menunjuk foto yang terpajang di dinding kamar Atha.”
Aku terpaku. Biasanya tidak melihat foto itu di dinding. Foto itu aku simpan di laci. Pasti, ibu yang memindahkannya ke situ. Seketika kenangan buruk itu terngiang lagi di kepalaku.
***
Waktu itu kami pulang sore karena ada ekstrakulikuler Pramuka di sekolah. Kami masih 13 tahun saat itu. Aku dan sahabatku, Kinan, sedang menunggu orang tua kami menjemput. Jalan raya waktu itu sangat ramai. Waktu itu, karena trotoar yang sempit, dan kami juga berjalan berdesak-desakan di trotoar, secara tidak sengaja tubuhku terdorong, dan aku akhirnya jatuh ke jalan. Waktu itu ada motor yang berjalan dengan sangat cepat ke arahku. Aku tidak bisa berdiri. Tiba-tiba, Kinan menarik tanganku. Aku terdorong dan jatuh ke trotoar, tapi Kinan belum sempat beranjak dari tempat itu. Akhirnya dia yang tertabrak. Dia mengalami pendarahan di otak dan tidak bisa tertolong. Aku sungguh sangat menyesal atas kepergiannya. Hal itu membuatku merasa sangat bersalah ketika ngat kejadian itu.
***
"Tha, Atha? Kamu baik-baik saja. Kenapa kamu melamun?"
 “Siapa itu, Tha? Di foto itu kalian tampak akrab sekali. Kalau kamu mau, kamu bisa cerita apa saja padaku. Apa kamu ada masalah? Mungkin aku bisa membantumu.”
"Aku merasa tidak enak badan. Mungkin kamu bisa pulang saja sekarang. Aku akan istirahat."
"Kamu baik-baik saja kan, Tha? Apa ada masalah yang ingin kamu ceritakan? Apa itu ada hubungannya dengan foto itu?"
“Sudah kubilang, cukup, Alana, lebih baik kamu pulang sekarang. Tidak perlu mengurusi masalahku. Urusi saja dirimu sendiri!” bentak Atha.
“Baik, aku akan pulang sekarang. Maafkan aku jika aku mengganggu.”
***
Setelah kejadian itu, Alana ingin meminta maaf atas ucapan kasarnya waktu terakhir kali bertemu. Dia tidak bermaksud membentaknya, dia hanya sedang emosi karena terbawa suasana.  Sudah berhari-hari, dia tidak mendengar kabar tentang Alana. Entah kemana perginya dia. Dia mencoba menanyakan kabar tentang Alana kepada wali kelasnya. Dan akhirnya dia mendapat kabar tentang Alana. Kata beliau, Alana mengalami kecelakaan parah. Diapun bergegas menuju rumah sakit tempat Alana berada. Saat itu kondisi Alana sangat kritis. Dia sudah berada di ruang ICU selama beberapa hari dan masih tak sadarkan diri. Menurut keterangan yang ada, dia tertabrak mobil dan mengakibatkan pendarahan di beberapa bagian tubuhnya. Atha kaget mendengar hal itu, kecelakaannya terjadi sore hari di hari yang sama setelah Atha menyuruhnya pulang. Atha shock. Dia merasa sangat bersalah untuk yang kedua kalinya.
***
Sore itu, keadaannya tidak tertolong. Sudah tidak ada harapan. Kondisinnya sangat lemah karena pendarahan yang terjadi berkepanjangan. Saat itu untuk yang terakhir kalinya dia melihatnya. Alana tersenyum dalam tidur panjangnya.
Atha menangis sesenggukkan, “Maafkan aku, Alana, karena selama ini aku mengcuhkanmu, menolak ajakanmu, membentakmu dan tidak bersikap baik padamu. Aku sungguh minta maaf. Aku mungkin tidak akan menemukan teman seperti dirimu dan sahabatku dulu. Kalian pergi begitu saja meninggalkanku. Kinan pergi karena menyelamatkanku. Dan kamu juga pergi tanpa berpamitan. Aku sadar ini memang bukan sepenuhnya kesalahanku. Jika aku tidak terbawa emosi saat itu mungkin hal ini tidak akan terjadi dan kita bisa berteman. Takdir tuhan tidak ada yang tahu. Aku belajar banyak dari kalian. Jika aku tidak terbawa emosi saat itu mungkin hal ini tidak akan terjadi dan kita bisa berteman.. Maafkan aku, Alana. Aku sungguh menyesal. Semoga kita bisa bertemu lagi." ucapnya saat berada di pusara Alana.
Atha baru mengetahui, betapa sakitnya kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya, untuk yang kedua kalinya.Walaupun kebersamaan mereka tidak terasa dan hanya sebentar saja. Tapi sebenarnya, dalam lubuk hati Atha, dia sangat senang dan bersyukur mengenal orang seperti Alana.
***

1 komentar:

  1. How to get to Lucky Creek Casino & Hotel in Elko by Bus - JtmHub
    The cheapest way to get from Lucky Creek Casino & Hotel to Elko costs only $0, and 문경 출장안마 the quickest way takes just 16 mins. 인천광역 출장샵 The quickest way takes 인천광역 출장샵 just 삼척 출장안마 20 동해 출장마사지

    BalasHapus